Kalium Alginat dari Sargassum sp.

Kalium alginat merupakan salah satu jenis garam yang dapat dihasilkan dari Sargassum sp. Garam ini diperoleh dengan pengendapan menggunakan K2CO3 pada asam alginat, dapat digunakan untuk pengental, pelindung, dan pengolah tekstil. K-alginat dapat dengan mudah larut dalam air serta membentuk senyawa yang kental, tetapi tidak larut dalam lambung (King 1983, diacu dalam Prawira 2008).

Alginat banyak digunakan pada industri pangan secara luas, bukan sebagai penambah nilai gizi, tetapi menghasilkan dan memperkuat tekstur atau stabilitas dari produk olahan seperti es krim, sari buah, pastel isi dan kue-kue (Percival 1970, diacu dalam Prawira 2008). Sifat pengikatan air yang amat baik dari alginat dapat menghasilkan tekstur yang lembut dan lunak pada kue isian, mempertahankan tekstur pada produk pangan yang dibekukan dan mencegah pengerasan dan kerapuhan dari makanan kering (Yunizal 2004, diacu dalam Prawira 2008). Sifat alginat sebagai pembentukan gel dapat diterapkan pada pembuatan pudding instantpastry filling dan dessert gel serta pada berbagai pembuatan roti dan kue (Renn 1986, diacu dalam Prawira 2008).

Penggunaan asam alginat atau natrium alginat dalam industri sangat luas dalam makanan, minuman, obat-obatan, kosmetik, kertas, detergen, dan sebagainya. Dalam industri, zat tersebut digunakan sebagai pembentuk gel, pengemulsi, dan penstabil emulsi, penjernih, pembentuk struktur, dan sebagainya (DKP 2003).

Alginat merupakan komponen utama dari getah ganggang coklat (Phaeophyceae), dan merupakan senyawa penting dalam dinding sel spesies ganggang yang tergolong dalam kelas Phaeophyceae. Secara kimia, alginat merupakan polimer murni dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linier yang panjang. Alginat membentuk garam yang larut dalam air dengan kation monovalen, serta amin dengan berat molekul rendah, dan ion magnesium. Oleh karena alginat merupakan molekul linier dengan berat molekul tinggi, maka mudah sekali menyerap air. Karena alasan tersebut, maka alginat baik sekali fungsinya sebagai bahan pengental. Alginat dapat diekstrak dari alginophyte, yaitu dari phaeophyceae yang menghasilkan alginat, antara lain MacrocystisEckloniaFucusLessonia, dan Sargassum (Winarno 2008).

Anam (2001), diacu dalam Kusumaningrum (2007) melaporkan bahwa Sargassum yang diambil dari pantai Jepara mengandung senyawa bioaktif lain, seperti triterpenoid, steroid dan fenolat. Menurut Suradikusumah (1989), diacu dalam Kusumaningrum (2007), senyawa-senyawa tersebut berperan penting dalam pengaturan pertumbuhan tanaman. Sargassum juga mengandung pigmen fotosintetik, yaitu klorofil a dan c, karoten, serta fucoxantin (Juneidi 2004).

Sargassum mengandung komponen algin, sehingga dapat menjadi sumber bahan baku alginat (Juneidi 2004). Algin merupakan komponen utama dari getah ganggang coklat dan merupakan senyawa penting dalam dinding sel spesies ganggang coklat (Winarno 2008).

Hasil praktikum menunjukkan bahwa rendemen Na-Alginat dan K-Alginat yang diperoleh dari praktikum adalah sekitar 10%, sedangkan menurut standar mutu (Chemical Codex 1981 diacu dalam Yunizal 2004) rendemen garam alginat adalah >18%. Rendahnya rendemen yang dihasilkan disebabkan oleh kerusakan yang terjadi pada garam alginat karena proses pemucatan dengan menggunakan NaOCl. Proses pemucatan akan menyebabkan pigmen yang terkandung dalam rumput laut teroksidasi dan terdegradasi, sehingga semakin tinggi konsentrasi NaOCl yang digunakan, maka retensi pigmen dalam produk semakin rendah dan rendemen yang dihasilkan rendah pula (Luhur 2006).

Hasil praktikum menunjukkan bahwa kadar air Na-Alginat dan K-Alginat yang diperoleh dari praktikum adalah sekitar 70%, sedangkan menurut standar mutu (Cottrell and Kovacs 1977 diacu dalam Prawira 2008) rendemen garam alginat adalah 13%. Proses pengeringan yang dilakukan pada praktikum kemungkinan tidak sempurna sehingga masih banyak air yang terkandung di dalam rumput laut. Alginat membentuk garam yang larut dalam air dengan kation monovalen, serta amin dengan berat molekul rendah, dan ion magnesium. Oleh karena alginat merupakan molekul linier dengan berat molekul tinggi, maka mudah sekali menyerap air (Winarno 2008).

Hasil praktikum menunjukkan bahwa kadar abu Na-Alginat dan K-Alginat yang diperoleh dari praktikum adalah sekitar 31%, sedangkan menurut standar mutu (Chemical Codex 1981 diacu dalam Yunizal 2004) rendemen garam alginat adalah 18 – 27%. Penambahan natrium dan kalium dalam proses ekstraksi dapat mengakibatkan kadar abu bertambah.

Hasil praktikum menunjukkan bahwa kadar sulfat Na-Alginat dan K-Alginat yang diperoleh dari praktikum adalah sekitar 8%. Kadar sulfat merupakan parameter yang digunakan untuk berbagai jenis polisakarida yang terdapat dalam alga merah (Winarno 1990, diacu dalam Sukri 2006). Adanya kandungan sulfat kemungkinan disebabkan oleh konsentrasi Na2CO3 yang rendah, sehingga tidak cukup menghancurkan sulfat dalam bahan baku.

Hasil praktikum menunjukkan bahwa viskositas Na-Alginat dan K-Alginat yang diperoleh dari praktikum adalah sekitar 2 cps. Viskositas merupakan faktor kualitas yang penting untuk zat cair dan semi cair (kental) atau produk murni, dimana hal ini merupakan ukuran dan kontrol untuk mengetahui kualitas dari produk akhir (Joslyn 1970, diacu dalam Sukri 2006). Viskositas alginat dipengaruhi oleh konsentrasi, bobot molekul, pH, suhu dan keberadaan garam. Semakin tinggi konsentrasi atau bobot molekul maka viskositasnya semakin tinggi, tetapi bila suhu ekstraksi semakin tinggi, maka viskositas yang dihasilkan akan semakin rendah  (Chapman 1970; Klose dan Glicksman 1972, diacu dalam Yunizal 2004).

sumber : http://repository.ipb.ac.id